Skip to main content

Posts

Showing posts from June, 2020

Sebuah do'a

Pukul 03.06 aku kembali bersimpuh dihadapan Tuhan-ku, melangitkan sebuah do'a yang selalu terpanjatkan. Doa ku sederhana, aku hanya memintamu untuk tetap tinggal, meski pada kenyataannya itu merupakan satu hal yang sulit. Tapi tak apa, aku tetap percaya Tuhan-ku akan mengijabah setiap do'a yang aku panjatkan ini, aku hanya perlu bersabar karena ada pepatah yang mengatakan do'a itu ibarat kita sedang mengayuh sepeda, hingga akhirnya sampai pada tujuan yang kita inginkan. Jujur, terkadang semuanya terasa sulit, lagi-lagi disini aku bertahan untuk sebuah nama. Entahlah, aku sendiri tidak mengerti kenapa aku bisa seperti ini. Aku seakan dibutakan oleh satu hal yang bernama CINTA. Bayangkan saja, aku rela menunggu-nya untuk kembali menatap ku. Bodoh memang, sampai orang-orang disekeliling ku berkata "untuk apa bersusah payah menunggunya? Itu akan membuat mu semakin terluka nona". Ahh, lagi-lagi mereka benar, aku ini kenapa? Mengapa aku bisa sebodoh ini?! Andai aku bisa...

MENYESAL? Tidak sama sekali ...

Ini sudah hampir tiga pekan kita tidak bertemu tuan, apa kamu tak rindu padaku? Ahh, ingin sekali menertawakan diri sendiri jika mendengar kalimat itu. Rindu? Tunggu … Apa arti rindu untuk mu? Bahkan aku sendiri tak yakin jika rasa rindu mu itu untuk ku. Hahaha .. miris bukan menjadi aku yang sampai saat ini diabaikan begitu saja. Terkadang aku berpikir untuk apa ada aku jika pada kenyataannya kamu jauh lebih bahagia saat tak ada aku disamping mu? Aku tau kamu punya dunia mu sendiri, dan rasanya itu jauh lebih penting dari pada aku yang hanya sebagai tempat singgah dikala rasa jenuh itu datang. Oh, atau mungkin … aku ini hanya sebuah boneka yang akan kau mainkan jika kau merasa kesepian? Hahaha.. lihat, betapa bodohnya aku, padahal aku sendiri tau jika kehadiran ku ini tidak berarti apa-apa untuk mu, tapi masih saja setia menunggu mu.   Mungkin benar apa yang dikatakan semua orang, bahwasanya cinta itu buta. Hahaha .. sekarang aku paham arti dari kalimat itu.   Aku...

Ku mohon kembalilah ...

Malam ini ditemani secangkir coklat panas, aku kembali membuka benda persegi ini, menatap layar dan mulai menuliskan setiap kata yang ingin aku sampaikan pada seseorang disana. Sedang apa? Apa kamu sudah makan? Apa kamu baik-baik saja disana? Ahh .. basi memang! Kenapa aku selalu seperti ini padamu?! Aku benci diposisi saat ini, sungguh .. aku seperti kehilangan arah hidupku hanya karena menunggu pesan dan kabar darimu.  Lihatlah aku sekarang! Hidupku kacau! Penampilanku berantakan! Wajah kusut, mata yang kian hari semakin membengkak, bahkan aku seperti lupa caranya tersenyum. Lihatlah, kini aku seperti setengah gila! Aku ingin teriak sekencang-kencangnya! Aku ingin meluapkan kesedihanku ini! Aku lelah ..  Dan kau! Apa kau senang melihat ku seperti ini?! Sebenarnya kau ini manusia macam apa, hah?! Seenaknya mengobrak-abrik hidupku! Sungguh aku kesal padamu! Aku ingin marah padamu, ingin sekali membencimu. Tapi nyatanya perasaan sayang ku terlalu besar dibanding dengan rasa ben...

152 Days

00.00 wib di tanggal 17 Juni 2020 ~ Aku ingat ketika lima bulan yang lalu kamu mengungkapkan rasa itu, dan kamu tau tuan setelah empat tahun lamanya aku berani untuk membuka hatiku kembali, tepatnya ketika kamu hadir dalam hidupku. Lucu memang, apalagi perkenalan kita saat itu, bahkan dengan waktu yang sangat singkat aku dan kamu akhirnya berubah menjadi kita. Aku tau, ini sangatlah gila, hanya dengan enam belas hari aku dengan rasa maluku mengatakan "IYA" saat itu. Kembali ku baca pesan-pesan mu lima bulan yang lalu, dan senyumku tak sedikitpun menghilang ketika membaca semua pesanmu. Kita begitu bahagia kala itu. Setiap hari selalu ku dapatkan notif pesan darimu, walau isinya hanya sekedar menanyakan hal-hal yang selalu kamu tanyakan berulang kali, tapi aku senang setidaknya saat itu aku sangatlah berarti dalam hidupmu. Kamu tau apa yang selalu aku suka darimu? Ya, aku suka tingkah konyolmu tuan, aku suka dengan kesederhanaan mu, bahkan semakin lama aku suka semua hal tenta...

Bicaralah ...

Ada apa dengan mu tuan? Beberapa hari ini aku dibuat bingung oleh sikap mu, kau kenapa? Apa aku berbuat salah padamu tuan? Bicaralah padaku ...  Aku ini hanyalah manusia biasa, aku tak memiliki kelebihan yang mampu membaca pikiranmu, bicaralah .. ku mohon jangan seperti ini tuan Kau boleh memarahiku tuan, tapi ku mohon jangan abaikan aku seperti ini. Kita bisa bicarakan semuanya baik-baik bukan? Kau bisa mengeluarkan kekesalan mu padaku, aku janji .. aku akan diam dan mendengarkan semuanya Tuan, sejujurnya kau anggap aku ini apa? Lagi-lagi kau selalu membuatku takut, ya .. aku takut kau akan meninggalkan ku seperti (dia), ku mohon jangan seperti ini tuan, aku belum siap patah untuk kesekian kalinya

PERIHAL KAU DAN RINDU

Hai tuan, apa kabar ? Malam ini aku ingin memberitahu mu sesuatu, ku mohon dengarkanlah sejenak Ini perihal kau dan rindu   Tuan, sejujurnya aku ingin sekali mengatakan jika saat ini aku amat merindukan mu Tapi sayangnya aku tak memiliki nyali untuk mengatakan itu semua padamu Aku hanya takut kau akan merasa risih padaku, terlebih pada rinduku ini   Tuan, sedang apa kau sekarang?   Malam ini hujan kembali turun Entahlah, seakan ia mengerti jika aku sedang menulis sesuatu untukmu Menuliskan setiap rindu yang ingin aku sampaikan padamu Bahkan aku sempat bertanya padanya, hari-hari yang ku lewati tanpa mu ini, akankah bisa ku bayar di hari-hari yang akan datang nantinya?   Tuan, aku rindu Ingin rasanya melihat senyummu, bahkan aku rindu mendengar ceritamu hari ini Rindu memainkan setiap helai rambutmu hingga kau terlelap, rindu menerobos derasnya hujan dijalanan sana bersamamu Ada banyak hal yang selalu aku rindukan tentang mu tuan ...