Malam ini ditemani secangkir coklat panas, aku kembali membuka benda persegi ini, menatap layar dan mulai menuliskan setiap kata yang ingin aku sampaikan pada seseorang disana.
Sedang apa? Apa kamu sudah makan? Apa kamu baik-baik saja disana? Ahh .. basi memang! Kenapa aku selalu seperti ini padamu?! Aku benci diposisi saat ini, sungguh .. aku seperti kehilangan arah hidupku hanya karena menunggu pesan dan kabar darimu.
Lihatlah aku sekarang! Hidupku kacau! Penampilanku berantakan! Wajah kusut, mata yang kian hari semakin membengkak, bahkan aku seperti lupa caranya tersenyum. Lihatlah, kini aku seperti setengah gila! Aku ingin teriak sekencang-kencangnya! Aku ingin meluapkan kesedihanku ini! Aku lelah ..
Dan kau! Apa kau senang melihat ku seperti ini?!
Sebenarnya kau ini manusia macam apa, hah?! Seenaknya mengobrak-abrik hidupku! Sungguh aku kesal padamu! Aku ingin marah padamu, ingin sekali membencimu. Tapi nyatanya perasaan sayang ku terlalu besar dibanding dengan rasa benciku.
Aku tau, aku ini bodoh! Bisa-bisanya menaruh harapan besar pada seseorang seperti dirimu! Bahkan karena kebodohanku ini rasanya ingin sekali memaki diriku sendiri.
Asal kau tau, sebelumnya aku tak pernah mencintai seseorang seperti ini!
Aku benci pada diriku sendiri!!! Kenapa disaat aku benar-benar menyayangi seseorang begitu tulus, namun dengan santainya dia mengabaikan perasaanku bahkan menyia-nyiakan aku.
Tuhan ... Kenapa kau menempatkan ku pada posisi seperti ini? Ku mohon, kembalikan dia seperti dulu, aku merindukannya. Aku amat takut kehilangannya, aku hanya ingin menghabiskan waktuku dengannya. Aku janji, aku akan berubah demi dirinya.
Dan kamu, aku hanya minta satu hal, jangan seperti ini, jangan mengabaikanku, aku tak bisa selalu tegar dihadapan semua orang, sulit rasanya berpura-pura bahagia di depan mereka. Aku mohon kembalilah seperti dulu, aku rindu.
Comments
Post a Comment